MY WISHES
Hai teman! Namaku Putri Luna Amber, biasa dipanggil dengan sebutan Luna. Saya tinggal di Jakarta bersama orang tua tiriku. Sejak dulu sampai menginjak umur 13 tahunku yang jatuh pada hari ini, aku belum mengetahui informasi apapun mengenai orang tua kandungku. Setiap hari, saya selalu bertanya kepada orang tua tiriku mengenai orang tua kandungku. Namun, mereka malah menjawabnya dengan bentakan. Mereka memang cukup kasar terhadapku, tapi tidak pada Jenny, anak kandung mereka. Yang kutahu, mereka sudah meninggal.
---
Hari ini Minggu. Seperti biasa, aku memulai hariku dengan do’a. Tuhan, bantulah aku dalam melewati hari ini. Semoga aku dapat tabah dalam menghadapi mereka. Amin.. Kamu tentu tahu siapa itu mereka. Mereka adalah keluarga tiriku. Lalu, aku bergegas turun kebawah untuk menyiapkan sarapan. Sebetulnya keluarga tiri ku ini bisa dibilang kaya, dan memiliki 5 pembantu. Namun, aku tetap diperlakukan layaknya seorang pembantu di rumahku. Bahkan lebih cocok dibilang babu.
Di dapur, aku bertemu mba Noni, salah satu pembantu di rumah. “Luna, ini masih jam 4 pagi. Tadi malam kan kamu tidur jam 10. Sebaiknya kamu istirahat saja dulu. Biar mba yang menyiapkan sarapan,” ucap mba Noni. Di rumah, hanya mba Noni lah temanku seorang. “Gapapa mba. Luna ga mau nyusahin mba. Lagipula, kalo mereka tahu aku ngga kerja, bisa-bisa pekerjaanku menjadi berlipat,” tolakku. Lalu aku segera menyiapkan sarapan. Menu sarapan hari ini spaghetti.
Jam 5, aku melaksanakan ibadah sholat subuh. Meja makan sudah siap jam 8, tepat ketika keluargaku bangun untuk sarapan. Ketika Jenny memakan spaghetti, dia langsung memuntahkannya. Dia membentakku, “Heh! Lo bikin apa ini? Gue suruh lo bikin spaghetti. Bukan makanan menjijikan seperti ini.” Aku hanya bisa menunduk. Jenny menempeleng kepalaku. “Sudahlah Jenny, kita pesan pizza saja. Dan kamu Luna, cepat kembali ke kamarmu!!” perintah Nyonya. Akus segera berlari ke kamarku.
Di kamar, aku menangis sejadi-jadinya. Sekilas aku menatap cermin, dan mengusap air mataku dan mencuci mukaku. Mataku sudah sangat sembab. Sekitar 1 jam aku menangis. Tuhan, akankah aku mendapatkan kebahagiaan di kehidupan ini? Jika ya, jangan kau tunda kebahagiaan itu datang! Lalu aku pergi mandi. Dan melanjutkan pekerjaanku.
Keesokan harinya, sudah mulai sekolah lagi. Aku memasuki kelasku, yaitu kelas 7-C di SMP Insan Murni. Di sekolah, peringkatku termasuk dalam kata SANGAT MEMUASKAN. Namun, orang tuaku tidak pernah peduli. Bahkan ketika aku memenangkan Olimpiade MIPA se-Jawa. Di sekolah, aku berteman dengan seorang anak bernama Sheila. Dia anak kelas sebelah. Dia anak yang baik, rajin, dan bertanggung jawab. Dia senasib denganku, tidak memiliki orang tua. Dia tinggal bersama nenek dan kakeknya.
Pada jam istirahat, Sheila datang ke kelasku. “Luna!! Tadi malem, grap (samaran seseorang) mu nanya nomer hape kamu ke aku. Jangan-jangan..”dia berhenti. “Apa? Kau fikir dia mau berteman denganku? Mana mungkin!” kataku. “Yasudah kalau begitu. Ke kantin yok!” ajaknya sambil merangkul tanganku. Aku hanya mengikutinya tanpa berkutik. Tuhan, benarkah apa yang tadi dikatakan Sheila tadi? Sebetulnya, aku memiliki harapan seperti fikiran Sheila. Namun, aku malu untuk mengutarakannya.
Tak terasa, sudah hari Sabtu. Sekolahku libur karena sekolahku swasta. Keluargaku sedang pergi ke Bandung sampai hari Minggu. Jadi, aku putuskan untuk menikmati hari liburku. Aku pergi ke taman di komplek rumahku. Tuhan, semoga aku mendapatkan kebahagiaan di sana. Ketika sedang duduk di bangku taman, ada seseorang yang menyentuh pundakku. Aku melihat ke belakang. “Hey! Kamu Luna anak 7-C kan?” tanya.. taukah kau siapa yang bertanya? GRAP!!! Tubuhku seakan-akan melayang karenanya. “Ya. Kakak Daniel kan anak 8-C kan?” jawabku. “Iya. Wah, ga nyangka kita ketemu di sini. Udah dulu ya, kakak harus pulang,” pamitnya. Jangan pergi! Tapi dia sudah pergi. Tuhan, semoga kenangan ini akan selalu abadi.
Malamnya, aku mendapat sms dari nomor yang tidak kutahu. “Maaf, kamu Luna kan? Ini kak Daniel,” begitu isinya. Aku langsung melongo menatap hapeku. ‘Ini kak daniel!’ Aku begitu bahagia. Lalu aku membalas sms itu, “Iya. Ada apa kak?”. Sejak itu, aku mulai dekat dengannya melalui dunia maya. Tuhan, semoga kejadian ini akan selalu terjadi dalam hidupku. Namun di sekolah, dia kembali menjadi Prince Charming yang diam-diam kukagumi. Sedangkan aku kembali menjadi Miss Not Popular. Ya, seperti di hari Senin kemaren.
Sekarang sudah hari Selasa. Aku duduk-duduk di bangku taman sekolah sambil membaca novel. Ketika berhenti membaca novel, geng grap mau berjalan di depanku. Aku memberanikan diri untuk menatap grap. Percayakah kau?! Dia juga sedang menatapku. Dia tersenyum kecil kepadaku. Aku membalas senyumannya dengan malu-malu. Ah~ bahagianya diriku ini! Tuhan, akankah setiap hari kejadian ini akan terulang? Kumohon, jawablah ‘YA’.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar